Update setiap saat

informasi cepat dan tanggap

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Jadikan Informasi dalam Genggaman

Bekerja sepenuh Hati

Berita Unik Menarik

Hanya di Worldnewsdodi.com

MENYAJIKAN BERITA TERUPDATE

memberikan Berita Artikel terupdate setiap saat

makalah tentang kognisi sosial

BAB I
PENDAHULUAN
A.      Latar Belakang
Dalam kegiatan sehari-hari. Kita, tidak pernah terlepas dari sebuah tindakan baik itu tindakan yang bersifat rasional maupun irasional. Yang sama-sama dituntun oleh pemikirannya apa yang diyakini dan apa yang diantisipasinya.
Bagaimanapun anehnya Bagaimanapun anehnya perilaku manusia, suku, atau bangsa, perilaku mereka membawa makna sendiri bagi mereka. Serta berupaya membentuk dunianya sendiri yang bermakna bagi dirinya, dan di dalam dunia tersebut ia mengklasifikasikan dan menyusun objek-objek yang banyak sekali, dan orang lain termasuk diantara objek-objek tersebut. Sebagaimana yang dinyatakan oleh Sir Frederick Bartlett “ reaksi kognitif manusia yakni reaksi dalam persepsi, imajinasi, berfikir, dan pertimbangan akal sehat cocok bila dibahas sebagai suatu upaya yang terjadi sesudah timbulnya maksud.”
B.      Rumusan Masalah
1.    Apa pengertian kognisi sosial?
2.    Apa teori-teori kognisi sosial ?
3.    Bagaimana konsep kognisi sosial?
4.    Bagaimana komponen kognisi sosial?
C.      Tujuan
1.    Pengertian kognisi sosial.
2.    Teori kognisi sosial.
3.    Konsep kognisi sosial.
4.    Komponen kognisi sosial.
BAB II
PEMBAHASAN
A.      Pengertian Kognisi Sosial
Menurut scheerer kognisi adalah proses sentral yang menghubungkan peristiwa-peristiwa diluar (external) dan didalam (internal) diri sendiri.
Menurut festinger kognisi adalah elemen-elemen kognitif, yaitu hal-hal yang diketahui oleh seseorang tentang dirinya sendiri, tentang tingkah lakunya, dan tentang keadaan disekitarnya.
Menurut Neisser kognisis adalah proses yang merubah, mereduksi, memperinci, menyimpan, mengungkapkan dan memakai setiap masukan (input) yang datang dari alat indera.
Menurut Baron & Byrne kognisi social adalah cara individu untuk menganalisa, mengingat dan menggunakan informasi mengenai kejadian-kejadian atau peristiwa-peristiwa social.
Dalam menganalisa peristiwa terdapat tiga proses yaitu ;
1.    Attention : proses pertama kali dimana individu memperhatikan gejala-gejala sosial yang ada disekelilingnya
2.    Enconding : memasukkan apa yang diperhatikan kedalam memori dan menyimpannya
3.    Retrieval : apabila kita menemukan gejala yang mirip, kita akan mengeluarkan ingatan kita  dan membandingkan, apabila ternyata sama maka kita akan mengatakan sesuatu mengenai gejala tersebut atau mengeluarkannya disaat akan menceritakan peristiwa yang dialami.
Kognisi adalah respon atau reaksi individu terhadap manusia dan benda yang terbentuk oleh bagaimana cara individu tersebut memandang keduanya (dunia kognitifnya). Dan kesan tersebut mengenai dunia setiap individu merupakan dunia yang bersifat individual. Dua orang yang berbeda tidak mungkin hidup dalam dunia kognitif yang sama.
Dapat disimpulkan bahwa kognisi sosial adalah adalah proses berfikir yang dilakukan seseorang untuk memahami dirinya sendiri dan orang lain.(kognisi adalah pengetahuan dan kesadaran) atau tata cara dimana kita menginterpretasi, menganalisa, mengingat, dan menggunakan informasi tentang dunia social. Dan kognisi social terjadi secara otomatis. Dalam kognisi social, memahami dunia sosial misalnya seperti upaya untuk menjelaskan orang yang baru saja bertemu, upaya untuk menjelaskan diri sendiri, dan proses berfikir dalam kognisi social mencakup bagaimana individu tersebut melakukan interpretasi (penafsiran), menganalisa, mengingat, dan menggunakan informasi tentang dunia social yang dialaminya.
B.      Teori Kognisi Sosial
Apabila seseorang harus memilih perilaku mana yang mesti dilakukan, maka yang bersangkutan akan memilih alternative perilaku yang akan membawa manfaat yang sebesar-besarnya. Atau biasa disebut subjective expected utility (Fishbein dan Ajzen). Dengan kemampuan memilih ini berarti factor berfikir berperan dalam menentukan pemilihannya. Dengan kemampuan berfikir seseorang akan dapat melihat apa yang telah terjadi sebagai bahan pertimbangan disamping melihat apa yang dihadapi pada waktu sekarang dan juga dapat melihat ke depan apa yang akan terjadi dalam seseorang bertindak. Dalam teori kognitif ini, proses kognitif menjadi dasar timbulnya prasangka. Hal ini berkaitan dengan :
1.    Kategorisasi atau penggolongan
Ketika seseorang mempersepsi orang lain atau kelompok mempersepsi kelompok. Dan memasukkan itu ke dalam suatu kategori sekse, umur, pekerjaan, pembedaan warna kulit, dll. Dan hal ini menimbulkan prasangka antara pihak satu dengan yang lain.
2.    Ingroup lawan outgroup
Orang yang berada dalam satu kelompok merasa (ingroup) dan orang yang merasa dari kelompok lain (outgroup) dan hal ini akan menimbulkan beberapa dampak, antara lain : anggota ingroup lebih anggota lain lebih punya kesamaan disbanding outgroup, ingroup lebih terfaforit daripada outgroup, ingroup memandang outgroup lebih homogen daripada ingroup baik kepribadian atau yang lain:
a.    Teori Rosenberg
Dikenal dengan teori affective cognitive consistency, atau terkadang disebut teori dua faktor. Rosenberg (second & backman:1964) memusatkan perhatian pada kognitif dan afektif. Pengertian kognitif tidak hanya mencakup pengetahuan, melainkan kepercayaan antara sikap dengan sistem yang ada dalam diri individu. Sedang afektif berhubungan dengan perasaan yang timbul pada seseorang yang menyertai sikapnya, dapat positif ataupun negativ terhadap obyek tertentu.
b.    Teori festinger
Dikenal dengan teori disonansi kognitif. Sikap individu itu biasanya konsisten satu dengan yang lain. Misal: ia berpendapat bahwa pendidikan itu baik, maka mereka mengirim anaknya ke sekolah,  menurut teori ini, elemen kognitif meliputi pengetahuan, pandangan/perbuatan, dan kepercayaan tentang lingkungan.
c.    Teori P-O-X
Teori Heider adalah berpangkal pada perasaan yang ada pada seseorang (P), terhadap orang lain (O), dan hal lain (X) dalam hal ini tidak hanya benda mati tetapi bisa berupa orang lain. Dan ketiga hal tersebut membentuk kesatuan.
C.      Konsep Kognisi Sosial
Konsep utama dari teori kognisi sosial adalah pengertian tentang obvervational learning atau proses belajar dengan mengamati. Jika ada seorang "model" didalam lingkungan seorang individu, misalnya saja teman atau anggota keluarga didalam lingkungan internal, atau di lingkungan publik seperti para tokoh publik dibidang berita dan hiburan, proses belajar dari individu ini akan terjadi melalui cara memperhatikan model tersebut. Terkadang perilaku seseorang bisa timbul hanya karena proses modeling.Modeling atau peniruan merupakan "the direct, mechanical reproduction of behavior, reproduksi perilaku yang langsung dan mekanis (Baran & Davis). Sebagai contoh, ketika seorang ibu mengajarkan anaknya bagaimana cara mengikat sepatu dengan memeragakannya berulang kali sehingga si anak bisa mengikat tali sepatunya, maka proses ini disebut proses modeling. Sebagai tambahan bagi proses peniruan interpersonal, proses modeling dapat juga terlihat pada narasumber yang ditampilkan oleh media. Misalnya orang bisa meniru bagaimana cara memasak kue bika dalam sebuah acara kuliner di televisi. Meski demikian tidak semua narasumber dapat memengaruhi khalayak, meski contoh yang ditampilkan lebih mudah dari bagaimana cara membuat kue bika. Di dalam kasus ini, teori kognitif sosial kembali ke konsep dasar "rewards and punishments" imbalan dan hukuman tetapi menempatkannya dalam konteks belajar sosial.
Baranowski, Perry, dan Parcel (1997) menyatakan bahwa "reinforcement is the primary construct in the operant form of learning" proses penguatan merupakan bentuk utama dari cara belajar seseorang. Proses penguatan juga merupakan konsep sentral dari proses belajar sosial. Didalam teori kognitif sosial, penguatan bekerja melalui proses efek menghalangi (inhibitory effects) dan efek membiarkan (disinhibitory effects). Inhibitory Effects terjadi ketika seseorang melihat seorang model yang diberi hukuman karena perilaku tertentu, misalnya penangkapan dan vonis hukuman terhadap seorang artis penyanyi terkenal karena terlibat dalam pembuatan video porno. Dengan mengamati apa yang dialami model tadi, akan mengurangi kemungkinan orang tersebut mengikuti apa yang dilakukan sang artis penyanyi terkenal itu. Sebaliknya, Disinhibitory effects terjadi ketika seseorang melihat seorang model yang diberi penghargaan atau imbalan untuk suatu perilaku tertentu. Misalnya disebuah tayangan kontes adu bakat disebuah televisi ditampilkan sekelompok pengamen jalanan yang bisa memenangi hadiah ratusan juta rupiah, serta ditawari menjadi model iklan dan bermain dalam sinetron karena mengkuti lomba tersebut. Menurut teori ini, orang juga akan mencoba mengikuti jejak sang pengamen jalanan.
Efek-efek yang dikemukakan diatas tidak tergantung pada imbalan dan hukuman yang sebenarnya, tetapi dari penguatan atas apa yang dialami orang lain tapi dirasakan seseorang sebagai pengalamannya sendiri (vicarious reinforcement). Menurut Bandura (1986), vicarious reinforcement terjadi karena adanya konsep pengharapan hasil (outcome expectations) dan harapan hasil (outcome expectancies). Outcome expectations menunjukkan bahwa ketika kita melihat seorang model diberi penghargaan dan dihukum, kita akan berharap mendapatkan hasil yang sama jika kita melakukan perilaku yang sama dengan model.
Teori kognitif sosial juga mempertimbangkan pentingnya kemampuan sang "pengamat" untuk menampilkan sebuah perilaku khusus dan kepercayaan yang dipunyainya untuk menampilkan perilaku trsebut. Kepercayaan ini disebut dengan self-efficacy atau efikasi diri (Bandura, 1977) dan hal ini dipandang sebagai sebuah prasayarat kritis dari perubahan perilaku. Misalnya dalam kasus tayangan tentang cara pembuatan kue bika di televisi yang telah disebutkan di atas. Teori kognitif sosial menyatakan bahwa tak semua orang akan belajar membuat kue bika, khususnya bagi mereka yang terbiasa membeli kue siap saji dan mempunyai keyakinan bahwa membuat kue bika sendiri merupakan hal yang sia-sia dan tak perlu karena membelinya pun tidak mahal harganya. Dalam hal ini orang tersebut dianggap tidak mempunyai tingkat efikasi diri yang cukup untuk belajar memasak kue dari televisi.
D.      Komponen Kognisi Sosial
1.  Skema
Adalah kerangka mental yang berpusat pada tema-tema spesifik yang dapat membantu kita mengorganisasi informasi sosial dan menuntun pemrosesannya.  Dalam otak kita, skema itu seperti skenario, yang memiliki alur. Dan skema terbentuk berdasar kepada pengalaman yang pernah dialami atau cerita dari orang lain. Contoh: skema tentang tempat makan cepat saji (McD, Kfc, dll) membuat kita tahu bagaimana cara untuk makan di tempat tersebut. Sehingga ketika datang ke tempat tersebut, kita akan langsung ke kasir untuk memesan makanan.
Pada dasarnya skema akan mempengaruhi sikap dalam melakukan sesuatu. Dan dalam skema memiliki sisi negative, karena skema mempengaruhi apa yang kita perhatikan, apa yang masuk dalam ingatan kita, dan apa yang kita ingat. Skema memainkan peran penting dalam membentuk prasangka dan pembentukan satu komponen dasar  tentang kelompok tertentu. Skema akan sulit diubah (efek bertahan). Dan kadang pula skema memberikan efek pemenuhan harapan diri yaitu membuat dunia sosial yang dialami menjadi konsisten. Contoh: ketika kita gagal, kita akan berusaha menghibur diri dengan berkata “ kamu hebat kok, ini karena pertandingan yang tidak adil” (efek bertahan).
2.    Heuristik
Adalah aturan sederhana dalam membuat keputusan yang kompleks atau menyusun kesimpulan dalam waktu cepat dan seakan tanpa usaha yang berarti. Heuristic ada 2 macam:
a.    Heuristik keterwakilan: sebuah strategi untuk membuat penilaian berdasarkan pada sejauh mana stimulasi atau peristiwa tersebut mempunyai kemiripan dengan stimulasi atau kategori yang lain. Contoh: kita mengenal seorang wanita sebagai pribadi yang teratur, ramah, rapi, dan mempunyai perpustakaan di rumah. Tetapi kita tidak mengetahui pekerjaan dari wanita ini. dan kita langsung menyimpulkan bahwa wanita ini adalah seorang pustakawati. Dengan kata lain, kita menilai berdasar semakin mirip seseorang dengan iri-iri khas orang-orang dari suatu kelompok tertentu, semakin mungkin orang tesebut adalah bagian dari kelomok itu.
b.    Heuristik ketersediaan: strategi untuk membuat keputusan berdasar seberapa mudah suatu informasi yang spesifik dapat dimunculkan dalam benak kita. Contoh : banyak orang merasa lebih takut tewas dalam keelakaan pesawat didarat. Hal ini karena fakta bahwa kecelakaan pesawat jauh lebih dramatis dan menyedot lebih banyak perhatian media.akibatnya kecelakaan pesawat jauh lebih mudah terpikir sehingga berpengaruh lebih kuat dalam penilaian individu.
3.    Kesalahan dalam kognisi sosial
a.    Bias negativitas yaitu kecenderungan memberikan perhatian lebih pada informasi yang negativ. Dibandingkan dengan informasi positif, satu saja informasi negativ akan memiliki pengaruh yang lebih kuat. Contoh: kita diberitahu bahwa dosen yang akan mengajar nanti adalah orang yang pandai, masih muda, ramah, baik hati, cantik, namun diduga terlibat skandal seks. Bias negativ menyebabkan kita justru terpaku pada hal yang negativ dan mengabaikan hal positif.
b.    Bias optimistik yaitu suatu predisposisi untuk mengharapkan agar segala sesuatu dapat berakhir baik. Contoh: pemerintah sering kali mengumumkan rencana yang terlalu optimis mengenai proyek-proyek besar, jalan, bandara,. Dan hal ini menyebabkan kesalahan perencanaan. Namun, ketika individu memperkirakan akan menerima umpan balik atau informasi yang mungkin negativ dan memiliki konsekuensi penting, tampak ia justru bersiap menghadapi hal yang buruk dan menunjukkan kebalikan dari pola optimistik mereka menjadi pesimis.
c.    Pemikiran konterfatual yaitu memikirkan sesuatu yang berlawanan dari keadaan sekarang. Efek dari memikirkan “ apa yang terjadi seandainya…..”. contoh: ketika selamat dari kecelakaan pesawat, seseorang justru memikirkan bagaimana nasib keluarga saya sepeninggalan saya ? dan pemikiran ini dapat secara kuat berpengaruh terhadap afeksi kita.
d.   Pemikiran magis yaitu berfikir dengan melibatkan asumsi yang tidak didasari alasan yang rasional. Contoh: supaya lulus ujian, seseorang akan berdo’a terus-menerus dan memakai banyak cincin.
4.    Afek dan Kognisi
Bahwa perasaan membentuk atau mempengaruhi fikiran dan fikiran akan membentuk perasaan. Begitu pula dengan perasaan dan suasana hati, memiliki pengaruh yang kuat terhadap beberapa aspek kognisi ataupun sebaliknya. Suasana hati saat ini dapat seara kuat mempengaruhi reaksi kita terhadap rangsang yang pertama kali kita temui. Contoh: ketika suasana hati sedang bergembira, dan berkenalan dengan orang lain, penilaian kita terhadap orang tersebut akan lebih baik disbanding ketika kita berkenalan dengan suasana hati yang sedang bersedih. Kognisi juga dapat mempengaruhi afeksi. Seperti yang dijelaskan dalam teori dua fator (Schater : 1964) yang menjelaskan bahwa kita sering tidak mengetahui perasaan atau sikap kita sendiri. Sehingga kita menyimpulkannya dari lingkungan. Dari situasi dimana kita mengalami reaksi internal ini. contoh: ketika kita mengalami perasaan tertentu atas kehadiran seseorang yang menarik, kita menyimpulkan bahwa kita sedang jatuh cinta. Selain itu, kognisi bisa mempengaruhi emosi melalui aktivitas skema yang di dalamnya terdapat komponen afektif yang kuat. Selain itu, fikiran bisa mempengaruhi afeksi yang melibatkan kita dalam mengatur emosi kita.


BAB III
PENUTUP
A.      Kesimpulan
Kognisi sosial adalah proses berfikir yang dilakukan seseorang untuk memahami dirinya sendiri dan orang lain.(kognisi adalah pengetahuan dan kesadaran) atau tata cara dimana kita menginterpretasi, menganalisa, mengingat, dan menggunakan informasi tentang dunia sosial. dalam teori kognisi sosial ini memiliki sebuah konsep yaitu proses belajar dengan mengamati. Dimana memiliki komponen yang saling berkaitan didalamnya.
B.      Saran
Dengan mempelajari makalah kognisi sosial ini. Hendaknya kita dapat menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. khususnya  untuk lebih mengenal diri sendiri dan orang lain.

Makalah Kemiskinan di Indonesia Lengkap

KATA PENGANTAR
Assalamu ‘alaikum wr.wb
Alhamdulillah puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, karena berkat limpahan rahmat-Nyalah sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan mata kuliah “Materi dan Pembelajaran IPS II SD”, dengan tema “MASALAH KEMISKINAN DI INDONESIA”, sesuai waktu yang diharapkan. Tujuan disusunnya makalah ini yakni sebagai bahan penilaian dan sebagai referensi untuk kami lebih mudah memahami ruang lingkup IPS yaitu masalah-masalah dalam masyarakat. Mata kuliah ini memiliki program 3 sks, untuk itu kami susun seoptimal mungkin demi tercapainya tujuan pembelajaran yang diharapkan.
Kami menyadari, makalah ini memiliki banyak kekurangan. Untuk itu kami mohon maaf jika dalam penyusunan makalah ini terdapat beberapa kesalahan informasi, dan untuk penyempurnaan makalah selanjutnya kami mohon kritik dan saran. Atas perhatiannya kami ucapkan terima kasih.
Wassalamu ‘alaikum wr.wb
Makassar, 1 Januari 2013
Penyusun
DAFTAR ISI
Sampul............................................................................................ 1
KATA PENGANTAR........................................................................ 2
DAFTAR ISI..................................................................................... 3
BAB I. PENDAHULUAN
A.   Latar Belakang.................................................................................................. 4
B.   Rumusan Masalah............................................................................................ 5
C.   Tujuan................................................................................................................. 6
D.   Metode Penyusunan........................................................................................ 6
E.   Sistematika Penulisan..................................................................................... 7
BAB II. LANDASAN TEORI............................................................. 8
A.   Pengertian.......................................................................................................... 8
1.  Teori............................................................................................................... 8
1.1.    Teori menurut para ahli...................................................................... 8
2.  Kemiskinan.................................................................................................... 9
2.1.    Kemiskinan menurut para ahli........................................................... 9
2.2.    Konsep kemiskinan............................................................................. 10
2.3.    Pemahaman mengenai kemiskinan................................................. 10
2.4.    Dimensi kemiskinan............................................................................ 11
3.  Sosiologi........................................................................................................ 11
3.1.    Sosiologi menurut para ahli............................................................... 12
4.  Politik.............................................................................................................. 12       
4.1.    Politik menurut para ahli..................................................................... 12
5.  Sosiologi politik............................................................................................ 13
5.1.    Sosiologi politik menurut para ahli................................................... 13
5.2.    Konsep sosiologi politik..................................................................... 14
5.3.    Asal mula perkembangan sosiolgi politik........................................ 14
5.4.    Titik padang sosiologi politik............................................................. 14
BAB III. PEMBAHASAN............................................................. 16
A.   Indicator-indikator Kemiskinan................................................................. 16
B.   Penyebab Kemiskinan............................................................................... 17
1.    Factor-faktor penyebab kemiskinan................................................... 18
2.    Kondisi yang menyebabkan terjadinya kemiskinan di Indonesia. 18
3.    Aspek penyebab kemiskinan secara majemuk................................ 19
4.    Penyebab kemiskinan menurut para ahli.......................................... 20
5.    Penyebab kemiskinan secara umum................................................. 21
C.   Dampak Kemiskinan.................................................................................. 24
1.    Dampak negative kemiskinan............................................................. 24
2.    Dampak positif kemiskinan................................................................. 26
D.   Kebijakan dan Program Penuntasan Kemiskinan................................. 28
E.   Penanganan Masalah Kemiskinan Berbasis Masyarakat.................... 29
F.    Usaha Pemerintah dalam Mengatasi Kemiskinan dari beberapa
Bidang.......................................................................................................... 30
1.    Di Bidang Sosial................................................................................... 30
2.    Di Bidang Kesehatan........................................................................... 30
3.    Di Bidang Pendidikan.......................................................................... 31
G.   Penyebab Kegagalan Program Penanggulangan Kemiskinan.......... 31
H.   Tanatangan Kemiskinan di Indonesia..................................................... 32
BAB IV. PENUTUP
A.     Kesimpulan...................................................................................................... 33
B.     Saran................................................................................................................. 34
DAFTAR PUSTAKA........................................................................ 35
BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Kemiskinan sesungguhnya telah menjadi masalah dunia sejak berabad-abad lalu. Namun, realitasnya, hingga kini kemiskinan masih menjadi bagian dari persoalan terberat dan paling krusial di dunia ini. Teknologi boleh semakin maju, negara-negara merdeka semakin banyak, dan negara-negara kaya boleh saja kian bertambah. Tetapi, jumlah orang miskin di dunia tak kunjung berkurang. Kemiskinan bahkan telah bertransformasi menjadi wajah teror yang menghantui dunia.
Pada Juli 2008, pemerintah melalui BPS, kembali merilis tentang data kemiskinan terbaru. Pada Selasa, 1 Juli 2008, BPS mengumumkan jumlah penduduk miskin Indonesia per Maret 2008, turun 2,21 juta orang dibandingkan kondisi Maret 2007. Dengan demikian, jumlah penduduk miskin saat ini sebanyak 34,96 juta orang atau turun dibandingkan sebelumnya sebanyak 37,17 juta orang. Ada dua argumentasi yang diungkapkan BPS dalam rilis tersebut, seperti yang dilansir Pertama, penurunan angka kemiskinan terjadi di pedesaan yang disebabkan kestabilan harga beras dan kenaikan riil upah petani periode Maret 2007 - Maret 2008. Kedua, inflasi umum pada Maret 2008 terhadap Maret 2007 relatif stabil, yakni 8,17% dan rata-rata harga beras turun 3,01% pada periode yang sama. Analisis BPS diperkuat dengan data bahwa 63% penduduk miskin tinggal di desa dan sebagian besar bekerja di sektor pertanian. Tentu saja rillis terbaru pemerintah tersebut kembali menuai kritik. Dan, beberapa pengamat ekonomi, menggunakan beras sebagai barometer pengukur angka kemiskinan merupakan penyederhanaan persoalan.
Kemiskinan merupakan problematika kemanusiaan yang telah mendunia dan hingga kini masih menjadi isu sentral di belahan bumi manapun. Selain bersifat laten dan aktual, kemiskinan adalah penyakit sosial ekonomi yang tidak hanya dialami oleh Negara-negara berkembang melainkan negara maju sepeti inggris dan Amerika Serikat. Negara inggris mengalami kemiskinan di penghujung tahun 1700-an pada era kebangkitan revolusi industri di Eropa. Sedangkan Amerika Serikat bahkan mengalami depresi dan resesi ekonomi pada tahun 1930-an dan baru setelah tiga puluh tahun kemudian Amerika Serikat tercatat sebagai Negara Adidaya dan terkaya di dunia.
B.     Rumusan Masalah
Masalah adalah sesuatu hal yang menimbulkan pernyataan yang mendorong untuk mencarikan jawabannya atau suatu yang harus di pecahkan Poerwadarminta(1976:634).selanjutnya Surachmad (1980 :3)juga mengatakan bahwa masalah adalah setiap kesulitan yang menggerakkan manusia untuk memecahkannya.
Berdasarkan uraian di atas ,maka rumusan masalah dalam makalah ini adalah sebagai berikut:
1.    Faktor dan penyebab apakah yang menimbulkan kemiskinan dari sudut pandang sosiologi politik.
2.    Apakah dampak negatif dan positif yang di timbulkan akibat kemiskinan.
3.    Bagaimana peran dan strategi pemerintah dalam mengatasi kemiskinan dan apakah penyebab kegagalan strategi tersebut.
C.    Tujuan
          Adapun tujuan penyusun membuat makalah  ini adalah untuk mencapai beberapa tujuan antara lain dapat di kemukakan sebagai berikut:
1.    Agar dapat  mengetahui Faktor dan penyebab apakah yang menimbulkan kemiskinan dari sudut pandang sosiologi politik.
2.    Agar Dapat memahami apakah dampak negatif dan positif yang di timbulkan akibat kemiskinan.
3.    Agar dapat mengerti serta memahami bagaimana peran dan strategi pemerintah dalam mengatasi kemiskinan dan apakah penyebab kegagalan strategi tersebut.
D.    Metode Penyusunan
          Metode penyusunan yang digunakan dalam penulisan makalah ini yaitu :
1.        Studi Kepustakaan. Yaitu pengumpulan data dengan jalan membaca, mengkaji dan mempelajari buku-buku, dokumen-dokumen laporan yang berkaitan dengan apa yang di analisis.
2.        Bahan – bahan tambahan yang didapatkan melalui Intenet.
E. Sistematika Penulisan
          Sistematika penulisan makalah ini di bagi menjadi 4 bab, sebagai berikut :
1.    BAB I : PENDAHULUAN, Pada bab ini yang merupakan pendahuluan, terdiri atas latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, metode penelitian dan sistematika penulisan.
2.    BAB II : DASAR TEORI, Pada bab ini diuraikan sekilas mengenai pengertian /definisi dari materi yang akan di bahas dalam makalah ini serta jenis dan bagiannya.
3.    BAB III : PEMBAHASAN, Pada bab ini menguraikan mengenai permasalahan yang akan di kaji dalam penyusunan makalah ini yaitu permasalahan di bidang ekonomi”Kemiskinan”
4.    BAB IV : PENUTUP, Pada bab penutup ini berisikan tentang kesimpulan dan saran dari penyusunan makalah kami mengenai Kemiskinan di Negara Indonesia.
BAB II
LANDASAN TEORI
Ada dua kondisi yang menyebabkan kemiskinan bisa terjadi, yaitu kemiskinan alami dan kemiskinan buatan. Kemiskinan alami terjadi akibat sumber daya alam (SDA) yang terbatas, penggunaan teknologi yang rendah dan bencana alam. Kemiskinan Buatan diakibatkan oleh imbas dari para birokrat kurang berkompeten dalam penguasaan ekonomi dan berbagai fasilitas yang tersedia, sehingga mengakibatkan susahnya untuk keluar dari kemelut kemiskinan tersebut. Dampaknya, para ekonom selalu gencar mengkritik kebijakan pembangunan yang mengedepankan pertumbuhan ketimbang dari pemerataan.
Sebelum Kita menbahas Lebih jauh mengenai Kemiskinan di Negara Indonesia ini,ada baiknya kita mengetahui apa itu Teori,Kemiskinan dan apakah sudut pandang atau hubungan antara kemiskinan dengan Sosiologi Politik.
A.    Pengertian
1.      Teori
Secara umum, teori adalah sebuah sistem konsep abstrak yang mengindikasikan adanya hubungan diantara konsep-konsep tersebut yang membantu kita memahami sebuah fenomena. Sehingga bisa dikatakan bahwa suatu teori adalah suatu kerangka kerja konseptual untuk mengatur pengetahuan dan menyediakan suatu cetak biru untuk melakukan beberapa tindakan selanjutnya.
1.1       Teori menurut para ahli
Adapun pengertian dari teori yang di utarakan oleh beberapa para ahli,berikut pengertiannya:
a.    Jonathan N Tuner
Teori adalah sebuah proses mengembangkan ide-ide yang membantu kita menjelaskan bagaimana dan mengapa suatu peristiwa terjadi.
b.    Littlejohn dan Karen Foss
Teori merupaka sebuah sistem konsep yang abstrak dan hubungan-hubungan konsep tersebut yang membantu kita untuk memahami sebuah fenomena.
c.    Kerlinger
Teori adalah konsep-konsep yang berhubungan satu sama lainnya yang mengandung suatu pandangan sistematis dari suatu fenomena.
d.    Nazir
Teori adalah pendapat yang dikemukakan sebagai keterangan mengenai suatu peristiwa atau kejadian.
Tiga hal yang perlu diperhatikan jika kita ingin mengenal lebih lanjut tentang teori adalah:
1)      Teori merupakan suatu proporsi yang terdiri dari konstrak yang sudah didefinisikan secara luas sesuai dengan hubungan unsur-unsur dalam proporsi tersebut secara jelas.
2)      Teori menjelaskan hubungan antar variable sehingga pandangan yang sistematik dari fenomena yang diterangkan variabel-variabel tersebut dapat jelas.
3)      Teori menerangkan fenomena dengan cara menspesifikasikan variable yang saling berhubungan.
2.      Kemiskinan
Kemiskinan adalah keadaan dimana terjadi kekurangan hal-hal yang biasa untuk dipunyai seperti makanan , pakaian , tempat berlindung dan air minum, hal-hal ini berhubungan erat dengan kualitas hidup . Kemiskinan kadang juga berarti tidak adanya akses terhadap pendidikan dan pekerjaan yang mampu mengatasi masalah kemiskinan dan mendapatkan kehormatan yang layak sebagai warga negara.
2.1.Kemiskinan Menurut para Ahli
Zygmunt Baumant (1998:1) merinci setidaknya terdapat 3 pendekatan dalam mendefinisikan kemiskinan.
a.       Kemiskinan yang dideskripsikan sebagai kekurangan material need. Kemiskinan, dalam hal ini, didefinisikan sebagai kondisi di mana seseorang atau sebuah komunitas kekurangan esensial untuk memenuhi standar kehidupan minimum yang terdiri dari sandang, pangan, papan (sumberdaya material).
b.      Kemiskinan yang dideskripsikan dari aspek hubungan dan kebutuhan sosial, seperti social exclusion (pengucilan sosial), ketergantungan, dan kemampuan untuk berpartisipasi dalam masyarakat, termasuk pendidikan dan informasi.
c.       Kemiskinan yang dideskripsikan sebagai kurangnya pendapatan dan kemakmuran—yang ditetapkan berdasarkan indikator-indikator tertentu. Dari sinilah munculnya pemilahan kemiskinan secara global berdasarkan pendapatan harian keluarga, yaitu kurang dari $1 atau $2 sehari.
2.2  Konsep Kemiskinan
Kemiskinan dapat dilihat dari dua sisi yaitu kemiskinan absolut dan kemiskinan relatif. Kemiskinan absolut dan kemiskinan relatif adalah konsep kemiskinan yang mengacu pada kepemilikan materi dikaitkan dengan standar kelayakan hidup seseorang atau kekeluarga. Kedua istilah itu menunjuk pada perbedaan sosial (social distinction) yang ada dalam masyarakat berangkat dari distribusi pendapatan. Perbedaannya adalah bahwa pada kemiskinan absolut ukurannya sudah terlebih dahulu ditentukan dengan angka-angka nyata (garis kemiskinan) dan atau indikator atau kriteria yang digunakan, sementara pada kemiskinan relatif kategori kemiskinan ditentukan berdasarkan perbandingan relatif tingkat kesejahteraan antar penduduk.
2.3.Pemahaman Mengenai Kemiskinan
          Kemiskinan dipahami dalam berbagai cara. Pemahaman utamanya mencakup :
a.       Gambaran kekurangan materi, yang biasanya mencakup kebutuhan pangan sehari-hari, sandang, perumahan, dan pelayanan kesehatan. Kemiskinan dalam arti ini dipahami sebagai situasi kelangkaan barang-barang dan pelayanan dasar.
b.      Gambaran tentang kebutuhan sosial, termasuk keterkucilan sosial, ketergantungan, dan ketidakmampuan untuk berpartisipasi dalam masyarakat. Hal ini termasukpendidikan dan informasi. Keterkucilan sosial biasanya dibedakan dari kemiskinan, karena hal ini mencakup masalah-masalah politik dan moral, dan tidak dibatasi pada bidang ekonomi.
c.       Gambaran tentang kurangnya penghasilan dan kekayaanyang memadai. Makna "memadai" di sini sangat berbeda-beda melintasi bagian-bagian politik dan ekonomi di seluruh dunia.
2.4.Dimensi kemiskinan
Adapun Dimensi Kemiskinan yang di bagi dalam beberapa macam di mensi,berikut penjelasannya:
a.    Dimensi Mikro : mentalitas materialistic dan ingin serba cepat ( instan )
b.    Dimensi Mezzo : melemahnya social trust ( kepercayaan social ) dalam suatu komunitas dan organisasi, dan otomatis hal ini sangat berpengaruh terhadap si subyek itu sendiri.
c.    Dimensi Makro : kesenjangan (ketidakadilan) pembangunan daerah yang minus (desa) dengan daerah yang surplus (kota), strategi pembangunan yang kurang tepat (tidak sesuai dengan kondisi sosio-demografis) masyarakat Indonesia
d.    Dimensi Global : adanya ketidakseimbangan relasi antara Negara yang sudah berkembang dengan Negara yang sedang berkembang.
3.      Sosiologi
Kata sosiologi berasal dari bahasa Latin, yaitu Socius dan Logos. Socius berarti kawan, teman. Logos berarti ilmu pengetahuan. Jadi, sosiologi adalah ilmu pengetahuan tentang masyarakat. Sedangkan masyarakat itu sendiri adalah sekelompok individu yang mempunyai hubungan, memiliki kepentingan bersama, dan memiliki budaya.
Sosiologi mempelajari masyarakat, perilaku masyarakat, dan perilaku sosial manusia dengan mengamati perilaku kelompok yang dibangunnya. Kelompok tersebut mencakup keluarga, suku bangsa, negara dan berbagai organisasi politik, ekonomi, dan sosial.
3.1.Sosiologi menurut para ahli
a. Pitirim Sorokin
Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari hubungan dan pengaruh timbal balik antara aneka macam gejala sosial (misalnya gejala ekonomi, gejala keluarga, dan gejala moral), sosiologi adalah ilmu yang mempelajari hubungan dan pengaruh timbal balik antara gejala sosial dengan gejala non-sosial, dan yang terakhir, sosiologi adalah ilmu yang mempelajari ciri-ciri umum semua jenis gejala-gejala sosial lain.
b. Selo Sumardjan dan Soelaeman Soemardi
Sosiologi adalah ilmu kemasyarakatan yang mempelajari struktur sosial dan proses-proses sosial termasuk perubahan sosial. Menurut pengertian dari berbagai tokoh, dapat disimpulkan bahwa sosiologi adalah ilmu yang membicarakan apa yang sedang terjadi saat ini, khususnya pola hubungan masyarakat serta timbal balik antara gejala-gejala sosial dengan gejala nonsosial.
c. Agus Comte
Sosiologi adalah Suatu disiplin ilmu yang bersifat positif yaitu mempelajari gejala-gejala dalam masyarakat yang didasarkan pada pemikiran yang bersifat rasional dan ilmiah.
4.      Politik
Politik adalah suatu proses pembentukan dan pembagian kekuasaan dalam masyarakat yang berwujud proses pembuatan keputusan, khususnya negara.
4.1.Politik menurut Para ahli
a. Aristoteles
Menurut Aristoteles, politik adalah usaha yang ditempuh warga negara untuk mewujudkan kebaikan bersama.
b. Suenarji
Menurut beliau politik dapat di lihat dari berbagai sudut pandang yang berbeda, antara lain:
1.    Politik adalah hal yang berkaitan dengan penyelenggaraan pemerintahan dan Negara.
2.    Politik merupakan kegiatan yang diarahkan untuk mendapatkan dan mempertahankan kekuasaan di masyarakat.
3.    Politik adalah segala sesuatu tentang proses perumusan dan pelaksanaan kebijakan politik.
5.      Sosiologi Politik
Sosiologi politik adalah sebuah penyelidikan antara masalah-masalah yang berkesinambungan antara masyarakat dan politik. Dalam korelasinya turut serta membahas struktur, kebudayaan, tingkah laku, pendekatan dan perkembangan melalui metode penelitian.
5.1.Sosiologi Politik Menurut Para Ahli
a. Drs. Mangohi Rahuman, M.Si. Sosiologi Politik :
Penelitian mengenai hubungan antara masalah-masalah politik dalam masyarakat antara struktur sosial dan struktur politik, dan antara tingkah laku sosial dengan tingkah laku politik.
b. Kolkorj 1987 :
Sebagai studi yang mempelajari partisipasi dalam pembuatan kegiatan tentang kehidupan yang luas dan yang menyempit.
c. Rush dan Ahoff :
Sebagai proses khususnya, proses hubungan antara masyarakat dan politik, hubungan antara struktur-struktur sosial dan hubungan antara tingkah laku sosial dan tingkah laku politik.
d. Pitirim Sorokin :
Ilmu yang mempelajari tentang hubungan dan pengaruh timbal balik antara aneka macam gejala sosial, hubungan dan saling pengaruh antara gejala-gejala sosial dan gejala non-sosial , ciri-ciri umum semua jenis gejala sosial.
5.2.Konsep Sosiologi Politik
Konsep sosiologi politik menyangkut empat konsep yaitu sosialisasi politik, partisipasi politik, rekruitmen politik dankomunikasi politik.
a.    Sosialisasi politik adalah proses pengenalan seseorang terhadap sistem politik untuk menentukan persepsinya mengenai politik serta reaksi-reaksinya terhadap gejala-gejala politik.
b.    Partisipasi poolitik adalah keterlibatan seseorang terhadap sistem politik pada bermacam tingkatan.
c.    Rekruitmen politik adalah proses pendaftaran seseorang untuk mendapat sebuah jabatan.
d.    Komunikasi politik adalah proses pengalokasian informasi dari sistem politik kepada sistem politik dan sistem sosial.
5.3.Asal Mula perkembagan Sosiologi Politik
            Teori-teori yang dicetuskan oleh pemikir-pemikir terkemuka berpengaruh besar terhadap studi-studi politik. Maka tidak mengherankan muncul studi-studi yang dapat di golongkan dalam bidang “sosiologi politik”. Asal mula sosiologi politik sebagai bidang suatu studi sulit ditetapkan secara pasti. Namun hal ini bisa ditelusuri dari karya-karya sosiolog atau ilmuwan politik mengenai tema-tema sosiologi politik.
5.4.Titik Pandang Sosiologi Politik
            Titik pandang yang dimaksudkan di sini adalah sudut pandang atau pendekatan, metode yang dipakai oleh para ahli sosiologi politik untuk mempelajari masalah-masalah yang menjadi objek perhatian mereka. Umumnya para ahli sosiologi politik mempelajari masalah-masalah seperti berikut :
1.  Kondisi – kondisi apakah yang menimbulkan tertib politik atau kekacauan politik dalam masyarakat?
2.  Mengapa sistem-sistem politik tertentu dianggap sah atau tidak sah oleh warga negara?
3.  Mengapa sistem-sistem politik tertentu stabil, sedangkan yang lainnya tidak ?
4.  Mengapa ada pemerintahan yang demokratis, dan mengapa ada yang totaliter? Mengapa pula ada pemerintahan yang merupakan kombinasi antara keduanya.
BAB III
PEMBAHASAN
Kemiskinan sebagai suatu penyakit sosial ekonomi tidak hanya dialami oleh negara-negara yang sedang berkembang, tetapi juga negara-negara maju, seperti Inggris dan Amerika Serikat. Negara Inggris mengalami kemiskinan di penghujung tahun 1700-an pada era kebangkitan revolusi industri yang muncul di Eropa. Pada masa itu kaum miskin di Inggris berasal dari tenaga-tenaga kerja pabrik yang sebelumnya sebagai petani yang mendapatkan upah rendah, sehingga kemampuan daya belinya juga rendah. Mereka umumnya tinggal di permukiman kumuh yang rawan terhadap penyakit sosial lainnya, seperti prostitusi, kriminalitas, pengangguran. Berikut sedikit penjelasan mengenai kemiskinan yang sudah menjadi dilema mengglobal yang sangat sulit dicari cara pemecahan terbaiknya.
A.    Indikator-indikator Kemiskinan
Untuk menuju solusi kemiskinan penting bagi kita untuk menelusuri secara detail indikator-indikator kemiskinan tersebut.Adapun indikator-indikator kemiskinan sebagaimana di kutip dari Badan Pusat Statistika, antara lain sebagi berikut:
1.    Ketidakmampuan memenuhi kebutuhan konsumsi dasar (sandang, pangan dan papan).
2.    Tidak adanya akses terhadap kebutuhan hidup dasar lainnya (kesehatan, pendidikan, sanitasi, air bersih dan transportasi).
3.    Tidak adanya jaminan masa depan (karena tiadanya investasi untuk pendidikan dan keluarga).
4.    Kerentanan terhadap goncangan yang bersifat individual maupun massa.
5.    Rendahnya kualitas sumber daya manusia dan terbatasnya sumber daya alam.
6.    Kurangnya apresiasi dalam kegiatan sosial masyarakat.
7.    Tidak adanya akses dalam lapangan kerja dan mata pencaharian yang berkesinambungan.
8.    Ketidakmampuan untuk berusaha karena cacat fisik maupun mental.
9.    Ketidakmampuan dan ketidaktergantungan sosial (anak-anak terlantar, wanita korban kekerasan rumah tangga, janda miskin, kelompok marginal dan terpencil).
Beberapa contoh kasus kemiskinan yang Pernah terjadi di indonesia yaitu diantaranya :
1.      Februari 2008, di Makassar, Sulsel; seorang ibu (45 th) dan seorang anak balitanya (4 th) meninggal dalam kondisi 3 hari kelaparan dan diare akut. Para tetangga, begitu pula RT/RW-nya, diberitakan tidak ada yang tahu karena mereka tidak pernah meminta-minta.
2.      Mei 2008, seorang anak yatim laki2 usia SD di Cibinong terpaksa tidak sekolah karena harus menjaga 2 adiknya yang masih kecil. Ibunya harus mencari nafkah dengan pendapatan yang kecil sehingga tidak mencukupi untuk membayar pembantu rumah tangga.
3.      Jatah beras miskin (raskin) yang didrop via ke-tua RT 1 x/ bulan tidak bisa ditebus oleh yang berhak. Saat beras datang, mereka tidak sanggup mengganti biaya transportasi karena sedang tidak punya uang (karena memang benar2 miskin). Akhirnya beras dibeli oleh orang yang lebih mampu.
4.      Riba eceran (pinjaman bernilai kecil) banyak terja-di di kalangan orang miskin. Hutang Rp 200.000,- mesti dibayar Rp 8.000 per hari x 30 hari (bunga 20%/bulan)
5.      Makassar, Maret 2008, seorang ibu miskin, sehabis bersalin, berniat menjual bayinya agar bisa membayar biaya pesalinan Rp300 ribu.
6.      Di Bekasi, Maret 2008, seorang ibu membenamkan 2 anaknya sehingga mati karena kemiskinan
Dari kasus tersebut terbukti bahwa kemiskinan sangat berpengaruh terhadap masing masing individu,yang mana di dalam sosiologi,sosiologi juga membahas kemiskinan yang mana kemiskinan tersebut berdampak pada masing masing indifidu dalam berkehidupan bermasyarakat.
B.     Penyebab Kemiskinan
Dibawah ini akan di jabarkan beberapa penyebab secara umum,faktor-faktor maupaun pengaruh dalam kemiskinan.
1.      Faktor-faktor penyebab kemiskinan di Indonesia.
Adapun faktor faktor yang mempengaruhi penyebab terjadinya kemiskinan di indonesia adalah sebagai berikut:
a.    Tingkat pendidikan masyarakat yang rata-rata masih rendah.
b.    Cara berpikir yang masih tradisional dan konservatif, apatis, dan anti akan hal-hal yang baru.
c.    Mentalitas dan etos kerja yang kurang baik.
d.    Keadaan alam yang kurang mendukung.
e.    Tidak adanya potensi atau produk andalan.
f.      Adanya Bencana Alam.
g.    Keterisoliran secara geografis dari pusat
h.    Rendahnya kinerja aparatur pemerintah.
i.      Adanya budaya korup di Indonesia.
j.      Rendahnya produktivitas dan pertumbuhan modal.
k.    Pengelolaan ekonomi yang masih menggunakan cara tradisional.
l.      Tata pemerintahan yang buruk.
m.   Terbatasnya kemampuan dalam pengelolaan SDA.
2.      Kondisi yang menyebabkan terjadinya kemiskinan di Indonesia.
Dari segi kondisi faktor penyebab terjadinya kemiskinan di indonesia di bagi atas dua kondisi yaitu di antaranya:
a.       Kemiskinan Alamiah, terjadi akibat SDA yang terbatas, penggunaan teknologi yang masih rendah, dan bencana alam.
Contohnya:
seperti sumberdaya alam yang terbatas( tidak ada hasil alam),dan adanya bencana alam yang cukup besar yang dapat menimbulkan kerugian fisik maupun non fisik yang sangat besar.
b.      Kemiskinan Buatan, terjadi karena lembaga-lembaga yang ada di masyarakat membuat sebagian anggota masyarakat tidak mampu menguasai sarana ekonomi dan berbagai fasilitas lain yang tersedia.
Contohnya:
1)      Kecelakaan merupakan salah satu penyebab terjadinya kemiskinan diIndonesia, karena kecelakaan yang fatal mempunyai multidampak, bias berdampak psikologis, social, ekonomis, dan lain-lain. Misalnya cacat seumur hidup dapat membuat korban menjadi patah semangat, sehingga mereka tidak memiliki motivasi untuk melakukan sebuah usaha, dan lainnya.
2)      Globalisasi juga telah melahirkan kemiskinan dan ketimpangan global, sehingga mereka yang tidak mampu tidak memiliki akses terhadap sumber daya yang cukup, baik untuk memproduksi ataupun membeli makanan yang layak.
3)      Adanya swastanisasi. Perusahaan-perusahaan yang menghasilkan produk yang menguasai hajat orang banyak. Swastanisasi ternyata menimbulkan dampak negatif dalam distribusi pendapatan, yakni memperlebar kesenjangan kesejahteraan antara si miskin dan si kaya.
3.      Aspek penyebab kemiskinan secara majemuk
Terdapat beberapa  aspek yang menyebabkan terjadinya  kemiskinan secara majemuk yang meliputi 3 aspek. yaitu:
a.       Kelembagaan, rakyat miskin tidak punya akses ke pembuat keputusan dan kebijakan, sedangkan kelembagaan yang ada tidak pernah menjaring atau menyalurkan aspirasi yang muncul dari bawah, dan setiap kebutuhan rakyat miskin sudah didefinisikan dari atas oleh kelembagaan yang ada, sehingga kemiskinan tidak dapat terselesaikan.
b.      Regulasi, kebijakan pemerintah yang mengutamakan kepentingan ekonomi. Kebijakan ekonomi dalam investasi modal pada sektor-sektor industri yang tidak berbasis pada potensi rakyat menutup kesempatan masyarakat untuk mengembangkan potensinya dan menjadi akar proses pemiskinan.
c.       Good governance, tidak adanya transparansi dan keterbukaan pada pembuatan dan pelaksanaan kebijakan yang mengakibatkan kebijakan hanya bisa diakses oleh orang-orang tertentu. Segala bentuk regulasi diputuskan oleh lembaga-lembaga pembuat kebijakan tanpa mengikutkan para pelaku yang terlibat dan tidak memahami aspirasi rakyat miskin sehingga kebijakan yang muncul tidak mendukung rakyat miskin.
4.      Penyebab kemiskinan Menurut Para ahli
     Adapun sebab terjadinya kemiskinan yang mana di utarakan oleh para ahli,di antaranya adalah:
a.      Menurut Kuncoro
Adapun Penyebab penyebab kemiskinan yang di sampaikan menurut kuncoro seorang pengamat perekonomian negara dalam bukunya yang berjudul penyakit lama perekonomian Negara,yaitu sebagai berikut:
1)      Secara makro, kemiskinan muncul karena adanya ketidaksamaan pola kepemilikan sumber daya yang menimbulkan distribusi pendapatan timpang, penduduk miskin hanya memiliki sumber daya dalam jumlah yang terbatas dan kualitasnya rendah
2)      kemiskinan muncul akibat perbedaan kualitas sumber daya manusia karena kualitas sumber daya manusia yang rendah berarti produktivitas juga rendah, upahnyapun rendah.
3)      kemiskinan muncul sebab perbedaan akses dan modal
b.      Menurut Sendalam Ismawan
Sendalam ismawan (2003:102) mengutarakan bahwa penyebab kemiskinan dan keterbelakangan adalah persoalan aksesibilitas. Akibat keterbatasan dan ketertiadaan akses manusia mempunyai keterbatasan (bahkan tidak ada) pilihan untuk mengembangkan hidupnya, kecuali menjalankan apa terpaksa saat ini yang dapat dilakukan (bukan apa yang seharusnya dilakukan). Dengan demikian manusia mempunyai keterbatasan dalam melakukan pilihan, akibatnya potensi manusia untuk mengembangkan hidupnya menjadi terhambat.
5.      Penyebab Kemiskinan secara umum
Dari beberapa macam penyebab yang di bahas sebelumnya, dapat di simpulkan bahwa secara umum penyebab terjadinya kemiskinan dapat di jabarkan menjadi beberapa bagian yaitu sebagai berikut:
a.      Laju Pertumbuhan Penduduk
Pertumbuhan penduduk Indonesia terus meningkat. Di setiap 10 tahun menurut hasil sensus penduduk. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) di tahun 1990 Indonesia memiliki 179 juta lebih penduduk. Kemudian di sensus penduduk tahun 2000 penduduk meningkat sebesar 27 juta penduduk atau menjadi 206 juta jiwa. dapat diringkaskan pertambahan penduduk Indonesia persatuan waktu adalah sebesar setiap tahun bertambah 2,04 juta orang pertahun atau, 170 ribu orang perbulan atau 5.577 orang perhari atau 232 orang perjam atau 4 orang permenit. Banyaknya jumlah penduduk ini membawa Indonesia menjadi negara ke-4 terbanyak penduduknya setelah China, India dan Amerika.
b.      Angkatan Kerja, Penduduk yang Bekerja dan Pengangguran.
Secara garis besar penduduk suatu negara dibagi menjadi dua yaitu tenaga kerja dan bukan tenaga kerja. Yang tergolong sebagi tenaga kerja ialah penduduk yang berumur didalam batas usia kerja. Batasan usia kerja berbeda-beda disetiap negara yang satu dengan yang lain. Batas usia kerja yang dianut oleh Indonesia ialah minimum 10 tahun tanpa batas umur maksimum. Jadi setiap orang atausemua penduduk berumur 10 tahun tergolong sebagai tenaga kerja. Sisanya merupakan bukan tenaga kerja yang selanjutnya dapat dimasukan dalam katergori bebabn ketergantungan. Tenaga kerja (manpower) dipilih pula kedalam dua kelompok yaitu angkatan kerja (labor force) dan bukan angkatan kerja. Yang termasuk angkatan kerja ialah tenaga kerja atau penduduk dalam usia kerja yang bekerja atau mempunyai pekerjaan namun untuk sementara tidak bekerja, dan yang mencari pekerjaan. Seangkan yang termasuk sebagai bukan angkatan kerja adalah tenaga kerja dalam usia kerja yang tidak sedang bekerja, tidak mempunyai pekerjaan dan tidak sedang mencari pekerjaan, yakni orang-orang yang kegiatannya bersekolah, mengurus rumah tangga, serta orang yang menerima pendapatan tapi bukan merupakan imbalan langsung atas jasa kerjanya.
c.       Distribusi Pendapatan dan Pemerataan Pembangunan
Distribusi pendapatan nasional mencerminkan merata atau timpangnya pembagian hasil pembangunan suatu negara di kalangan penduduknya. Kriteria ketidakmerataan versi Bank Dunia didasarkan atas porsi pendapatan nasional yang dinikmati oleh tiga lapisan penduduk, yakni 40% penduduk berpendapatan rendah (penduduk miskin); 40% penduduk berpendapatan menengah; serta 20% penduduk berpemdapatan tertinggi (penduduk terkaya).
Pendapatan penduduk yang didapatkan dari hasil pekerjaan yang mereka lakukan relatif tidak dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari sedangkan ada sebagian penduduk di Indonesia mempunyai pendapatan yang berlebih. Ini disebut juga sebagai ketimpangan. Ketimpangan pendapatan yang ekstrem dapat menyebabkan inefisiensi ekonomi. Penyebabnya sebagian adalah pada tingkat pendapatan rata ± rata bearapa pun, ketimpangan yang semakin tinggi akan menyebabkan semakin kecilnya bagian populasi yang memenuhi syarat untuk mendapatkan pinjaman atau sumber kredit. Selain itu ketimpangan dapat menyebabkan alokasi aset yang tidak efisien. Ketimpangan yang tinggi menyebabkan penekanan yang terlalu tinggi pada pendidikan tinggi dengan mengorbankan kualitas universal pendidikan dasar, dan kemudian menyebabkan kesenjangan pendapatan yang semakin melebar.
d.      Tingkat pendidikan yang rendah.
Rendahnya kualitas penduduk juga merupakan salah satu penyebab kemiskinan di suatu negara. Ini disebabkan karena rendahnya tingkat pendidikan dan tingkat pengetahuan tenaga kerja. Untuk adanya perkembangan ekonomi terutama industry, jelas sekali dibuthkan lebih banyak teanga kerja yang mempunyai skill atau paling tidak dapat membaca dan menulis. Menurut Schumaker pendidikan merupakan sumber daya yang terbesar manfaatnya dibandingkan faktor-faktor produksi lain.
e.       Biaya kehidupan yang tinggi.
Melonjak tingginya biaya kehidupan di suatu daerah adalah sebagai akibat dari tidak adanya keseimbangan pendapatan atau gaji masyarakat. Tentunya kemiskinan adalah konsekuensi logis dari realita di atas. Hal ini bisa disebabkan oleh karena kurangnya tenaga kerja ahli, lemahnya peranan wanita di depan publik dan banyaknya pengangguran.
f.       Pembagian subsidi in come pemerintah yang kurang merata.
Hal ini selain menyulitkan akan terpenuhinya kebutuhan pokok dan jaminan keamanan untuk para warga miskin, juga secara tidak langsung mematikan sumber pemasukan warga. Bahkan di sisi lain rakyat miskin masih terbebani oleh pajak negara.
g.      Kurangnya perhatian dari pemerintah
Pemerintah yang kurang peka terhadap laju pertumbuhan masyarakat miskin dapat menjadi salah satu faktor kemiskinan. Pemerintah tidak dapat memutuskan kebijakan yang mampu mengendalikan tingkat kemiskinan di negaranya.
h.      Merosotnya standar perkembangan pendapatan per-kapita secara global.
Yang penting digarisbawahi di sini adalah bahwa standar pendapatan per-kapita bergerak seimbang dengan produktivitas yang ada pada suatu sistem. Jikalau produktivitas berangsur meningkat maka pendapatan per-kapita pun akan naik. Begitu pula sebaliknya, seandainya produktivitas menyusut maka pendapatan per-kapita akan turun beriringan.
Berikut beberapa faktor yang mempengaruhi kemerosotan standar perkembangan pendapatan per-kapita:
1.    Naiknya standar perkembangan suatu daerah.
2.    Politik ekonomi yang tidak sehat.
3.    Faktor-faktor luar neger, diantaranya:
a.    Rusaknya syarat-syarat perdagangan
b.    Beban hutang
c.    Kurangnya bantuan luar negeri, dan
d.    Perang
i.        Menurunnya etos kerja dan produktivitas masyarakat.
Terlihat jelas faktor ini sangat urgen dalam pengaruhnya terhadap kemiskinan. Oleh karena itu, untuk menaikkan etos kerja dan produktivitas masyarakat harus didukung dengan SDA dan SDM yang bagus, serta jaminan kesehatan dan pendidikan yang bisa dipertanggung jawabkan dengan maksimal.
C.    Dampak kemiskinan
Kemiskinan yang mana sudah menjadi penyakit bangsa ini mempunyai dampak yang sangar besar demi perkembangan atau kemajuan negara dalam mensejahterakan rakyatnya,berikut kami akan membahas apa saja yang menjadi dampak dari kemiskinan tersebut yang mana terdiri dari:
1.      Dampak Negatif Kemiskinan
Dampak Negatif kemiskinan dapat kita lihat dari beberapa segi yaitu diantaranya adalah:
a.      Dari Segi lapangan Pekerjaan
                Meluasnya pengangguran sebenarnya bukan saja disebabkan rendahnya tingkat pendidikan seseorang. Tetapi, juga disebabkan kebijakan pemerintah yang terlalu memprioritaskan ekonomi makro atau pertumbuhan [growth]. Ketika terjadi krisis ekonomi di kawasan Asia tahun 1997 silam misalnya banyak perusahaan yang melakukan perampingan jumlah tenaga kerja. Sebab, tak mampu lagi membayar gaji karyawan akibat defisit anggaran perusahaan. Akibatnya jutaan orang terpaksa harus dirumahkan atau dengan kata lain meraka terpaksa di-PHK [Putus Hubungan Kerja.
b.      Kekerasan( Kriminal)
Sesungguhnya kekerasan yang marak terjadi akhir-akhir ini merupakan efek dari pengangguran. Karena seseorang tidak mampu lagi mencari nafkah melalui jalan yang benar dan halal. Ketika tak ada lagi jaminan bagi seseorang dapat bertahan dan menjaga keberlangsungan hidupnya maka jalan pintas pun dilakukan. Misalnya, merampok, menodong, mencuri, atau menipu [dengan cara mengintimidasi orang lain] di atas kendaraan umum dengan berpura-pura kalau sanak keluarganya ada yang sakit dan butuh biaya besar untuk operasi. Sehingga dengan mudah ia mendapatkan uang dari memalak.
Contoh:
a)      Tetoris bom bunuh diri
teroris bom buninh diri,rata rata orng yang melakukan bunuh diri adalah orang yang miskin,kepepet,tidak bekerja dan membutuhkan uang,dengan iming imingan uang yang banyak untuk melakukan bom bunuh diri,mungkin patut di coba.apapun di lakukan demi uang,padahal belum tentu setelah mati mendapatkan uangnya.
b)      Pembunuhan
Seorang Ibu membunuh  2 anak kandungnya ssendiri dengan cara menceburkannya ke sungai akibat tidak sanggup membiayainya ( miskin )
c)      Berebutan sedekah sehingga ter-injak-injak  (padahal ada orang yang berhak namun tidak mendapatkan nya )
d)     Fasilitas umum / produksi (pabrik), yang dibangun dengan waktu yang cukup lama dan biaya besar, dirusak dalam sekejap oleh masyarakat / karyawan sendiri.
c.       Pendidikan
            Tingkat putus sekolah yang tinggi merupakan fenomena yang terjadi dewasa ini. Mahalnya biaya pendidikan membuat masyarakat miskin tidak dapat lagi menjangkau dunia sekolah atau pendidikan. Jelas mereka tak dapat menjangkau dunia pendidikan yang sangat mahal itu. Sebab, mereka begitu miskin. Untuk makan satu kali sehari saja mereka sudah kesulitan.walaupun sekarang terdapat dana bos tetapi dana tersebut hanya berupa pembebasan uang spp dan buku saja,belum termasuk biaya pungutan pungutan yang di lakukan oleh sekolah dan banyaknya peralatan sekolah yang harus di beli.
Contohnya:
seorang penarik becak misalnya yang memiliki anak cerdas bisa mengangkat dirinya dari kemiskinan ketika biaya untuk sekolah saja sudah sangat mencekik leher. Sementara anak-anak orang yang berduit bisa bersekolah di perguruan-perguruan tinggi mentereng dengan fasilitas lengkap. Jika ini yang terjadi sesungguhnya negara sudah melakukan "pemiskinan struktural" terhadap rakyatnya.
            Akhirnya kondisi masyarakat miskin semakin terpuruk lebih dalam. Tingginya tingkat putus sekolah berdampak pada rendahya tingkat pendidikan seseorang. Dengan begitu akan mengurangi kesempatan seseorang mendapatkan pekerjaan yang lebih layak. Ini akan menyebabkan bertambahnya pengangguran akibat tidak mampu bersaing di era globalisasi yang menuntut keterampilan di segala bidang.
d.      Kesehatan
Seperti kita ketahui, biaya pengobatan sekarang sangat mahal. Hampir setiap klinik pengobatan apalagi rumah sakit swasta besar menerapkan tarif atau ongkos pengobatan yang biayanya melangit. Sehingga, biayanya tak terjangkau oleh kalangan miskin.
e.       Konflik Sosial
konflik sosial bernuansa SARA. Tanpa bersikap munafik konflik SARA muncul akibat ketidakpuasan dan kekecewaan atas kondisi miskin yang akut. Hal ini menjadi bukti lain dari kemiskinan yang kita alami. M Yudhi Haryono menyebut akibat ketiadaan jaminan keadilan "keamanan" dan perlindungan hukum dari negara, persoalan ekonomi-politik yang obyektif disublimasikan ke dalam bentrokan identitas yang subjektif.
2.      Dampak Positif kemiskinan
Sebagai warga negara yang tingkat pendapatannya rendah atau miskin tidak perlu berkecil hati karena dari kemiskinan dapat pula kita tarik dampak positifnya,Bila kita amati secara mendetai ,kemiskinan juga memiliki daya guna,antara lain:
a.   Menambah nilai guna suatu barang.
Contoh:
jika kita memiliki pakaian bekas, pasti jika tidak di jadikan  kain lap, pasti di kasihkan kepada seseorang,dari pada menumpuk . dan tidak mungkin kita kasihkan kepada orang mampu(kaya),melainkan kepada orang tidak mampu ( miskin) nilai guna baju tersebut juga akan lebih panjang atau berguna bila di pakai orang miskin.
b.   Memperkuat status sosial seseorang. jika kita orang kaya, kita akan lebih terpandang bila punya anak buah yang banyak. apakah anak buahnya atau pembantunya orang kaya,mana ada orang kaya mau jadi pembantu, tentu tidak!! pasti orang miskin.
c.   Untuk mengerjakan pekerjaan paling Hina dan kotor. jika tidak ada orang miskin, siap yang akan menyapu jalan raya,siapa yang mau membersihkan parit dan riol yang bau, siapa yang mau menguras septik tank kalo penuh, apakah orang kaya mau melakukan pekerjaan itu,tentu tidak?
d.   Sebagai TUMBAL PEMBANGUNAN. Kalo kita punya tanah dan tanah tersebut akan di jadikan sarana umum, maka tanah kita tsb akan di bayar dengan layak. Sedangkan untuk pemukiman kumuh, hal tersebut jarang sekali terjadi.
e.   Sebagai sarana ibadah. setiap agama pasti diajarkan menyantuni orang miskin. dalam agama saya (islam), zakat (sejenis sedekah tapi hukumnya WAJIB) termasuk dalam hukum islam. jika saya tidak berzakat maka saya belum sempurna Islamnya. bagai mana kalo semua orang di dunia ini jadi kaya, mau di berikan siapa zakat tersebut. sedangkan syarat zakat harus di berikan pada fakir miskin.
f.    Membuka lapangan kerja. aneh memang. tapi dari kemiskinan akan terbuka lapangan kerja baru. antara lain, tukang kredit(jika semua orang kaya mana ada yang mau kredit),jasa transportasi (becak) dan yang paling menghasilkan dan beromzet milyaran dollar per hari dari seluruh dunia adalah JUDI. judi merupakan sarana untuk menjadikan duit yang sedikit menjadi berlipat. 80% orang yang berjudi adalah orang miskin.
Jadi kemiskinan bukan selalu berdampak negatif. Kekayaan tidak ada artinya jika tidak ada kemiskinan.
D.    Kebijakan dan Program Penuntasan Kemiskinan
Upaya penanggulangan kemiskinan Indonesia telah dilakukan dan menempatkan penanggulangan kemiskinan sebagai prioritas utama kebijakan pembangunan nasional. Kebijakan kemiskinan merupakan prioritas Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) 2004-2009 dan dijabarkan lebih rinci dalam Rencana Kerja Pemerintah (RKP) setiap tahun serta digunakan sebagai acuan bagi kementrian, lembaga dan pemerintah daerah dalam pelaksanaan pembangunan tahunan.
Sebagai wujud gerakan bersama dalam mengatasi kemiskinan dan mencapai Tujuan pembangunan Milenium, Strategi Nasional Pembangunan Kemiskinan (SPNK) telah disusun melalui proses partisipatif dengan melibatkan seluruh stakeholders pembangunan di Indonesia. Selain itu, sekitar 60 % pemerintah kabupaten/ kota telah membentuk Komite penanggulangan Kemiskinan Daerah (KPKD) dan menyusun Strategi Penanggulangan Kemiskinan Daerah (SPKD) sebagai dasar arus utama penanggulangan kemiskinan di daerah dan mendorong gerakan sosial dalam mengatasi kemiskinan.
Adapun langkah jangka pendek yang diprioritaskan antara lain sebagai berikut:
1.    Mengurangi kesenjangan antar daerah dengan;
a.    penyediaan sarana-sarana irigasi, air bersih dan sanitasi dasar terutama daerah-daerah langka sumber air bersih.
b.    pembangunan jalan, jembatan, dan dermaga daerah-daerah tertinggal.
c.    redistribusi sumber dana kepada daerah-daerah yang memiliki pendapatan rendah dengan instrumen Dana Alokasi Khusus (DAK) .
2.    Perluasan kesempatan kerja dan berusaha dilakukan melalui bantuan dana stimulan untuk modal usaha, pelatihan keterampilan kerja dan meningkatkan investasi dan revitalisasi industri.
3.    Khusus untuk pemenuhan sarana hak dasar penduduk miskin diberikan pelayanan antara lain:
a.    pendidikan gratis sebagai penuntasan program belajar 9 tahun termasuk tunjangan bagi murid yang kurang mampu
b.    jaminan pemeliharaan kesehatan gratis bagi penduduk miskin di puskesmas dan rumah sakit kelas tiga.
Di bawah ini merupakan contoh dari upaya mengatasi kemiskinan di Indonesia.
Contoh dari upaya kemiskinan adalah di propinsi Jawa Barat tepatnya di Bandung dengan diadakannya Bandung Peduli yang dibentuk pada tanggal 23 – 25 Februari 1998. Bandung Peduli adalah gerakan kemanusiaan yang memfokuskan kegiatannya pada upaya menolong orang kelaparan, dan mengentaskan orang-orang yang berada di bawah garis kemiskinan. Dalam melakukan kegiatan, Bandung Peduli berpegang teguh pada wawasan kemanusiaan, tanpa mengindahkan perbedaan suku, ras, agama, kepercayaan, ataupun haluan politik.
Oleh karena sumbangan dari para dermawan tidak terlalu besar bila dibandingkan dengan permasalahan kelaparan dan kemiskinan yang dihadapi, maka Bandung Peduli melakukan targetting dengan sasaran bahwa orang yang dibantu tinggal di Kabupaten/ Kotamadya Bandung, dan mereka yang tergolong fakir. Golongan fakir yang dimaksud adalah orang yang miskin sekali dan paling miskin bila diukur dengan “Ekuivalen Nilai Tukar Beras”.
E.     Penanganan masalah Kemiskinan berbasis masyarakat
1.      Tindakan Kolektif
Tindakan kolektif adalah tindakan yang dilakukan masyarakat secara bersama untuk memecahkan suatu masalah.
Tugas kolektif untuk memberikan akses pada terbentuknya forum-forum masyarakat miskin yang difasilitasi oleh pemerintah maupun lembaga swadaya masyarakat dan memberdayakan forum-forum sejenis yang telah terbentuk. tugas tersebut tugas seluruh institusi pemerintahan dan bukan kompartemen pemerintahan tertentu saja. Khususnya pada tugas kolektif untuk memberikan akses pada terbentuknya forum-forum masyarakat miskin yang difasilitasi oleh pemerintah maupun lembaga swadaya masyarakat.
Memberdayakan forum-forum sejenis yang telah terbentuk. Hal itu dapat diwujudkan jika tersedia suatu fasilitas interaksi komunikasi melalui ketersediaan forum yang memungkinkan adanya akses bagi masyarakat miskin untuk memperoleh pembelajaran agar dapat meningkatkan produktifitasnya sesuai dengan kondisi mereka masing-masing.( intinya agar warga yang tidak mampu dapat terkumpul dan di ketahui agar tidak salah sasaran antara kaya dan miskin).
2.      Tindakan antisipatif
Di Indonesia program-program penanggulangan kemiskinan sudah banyak pula dilaksanakan, seperti : pengembangan desa tertinggal, perbaikan kampung, gerakan terpadu pengentasan kemiskinan. Sekarang pemerintah menangani program tersebut secara menyeluruh, terutama sejak krisis moneter dan ekonomi yang melanda Indonesia pada pertengahan tahun 1997, melalui program-program Jaring Pengaman Sosial (JPS). Dalam JPS ini masyarakat sasaran ikut terlibat dalam berbagai kegiatan. dan akhir-akhir ini adanya jamkesmas (jaminan kesehatan masyarakat) dan askeskin (asuransi kesehatan miskin) tapi itu semua belum menjawab masalah kemiskinan dan belum sepenuhnya tindakan antisipatif ini berhasil.
F.     Usaha Pemerintah dalam Mengatasi Kemiskinan dari beberapa bidang
Pemerintah sebagai pengelenggara negara yang tugasnya untuk mensejahterakan rakyatnya sudah sepatutnya mengurus dan mengambil solusi akibat dari kemiskinan adapun usaha usaha pemerintah dalam mengatasi kemiskinan secara umaum adalah seperti;
1.      Di bidang sosial
Pemerintah sudah berupaya dalam menanngulangi kemiskinan dengan cara mengadakan Bantuan langsung Tunai(BLT)kepada rakyat yang kurang mampu,memberikan sandang pangan,menyediakan bahan pokok makanan yang murah bagi rakyat miskin(seperti beras bulog),mensubsidi BBM(Pertamina),dan akhir akhir ini seperti pembagian kompor gas untuk kalangan tidak mampu dan masih banyak lagi.
2.      Di bidang kesehatan
Di dalam bidang kesehatan pemerintah juga terus berupaya dalam memerangi kemiskinan dengan cara menyediakan Askes untuk orang yang tidak mampu,mengadakan obat Generik yang harganya dapat di jangjau oleh masyarakat kurang mampu,memberikan susu instan dan makanan untuk anak balita yang tumbuh di bawah garis merah(kurang gizi) dan masih banyak lagi.
3.      Di Bidang Pendidikan
Pendidikan merupakan pilar utama dalam membangun sebuah negara tanpa adanya pendidikan negara yang kaya akan Sumber daya Alam pun tidak akan berkembang,karna tidak adanya pengelolanya.dari segi pendidikan pemerintah terus memberikan bantuan baik bantuan dalam bidang sekolah Seperti Dana BOS(bantuan Operasional Sekolah) hingga menganalokasikan dana APBN sebesar 20% untuk dana pendidikan,walaupun dana tersebut tidak tepat sasaran yang di akibatkan oleh adanya opnum opnum yang tidak bertanggung jawab.
G.    Penyebab kegagalan Program Penanggulangan Kemiskinan
Pada dasarnya ada dua faktor penting yang dapat menyebabkan kegagalan program penanggulangan kemiskinan di Indonesia yaitu adalah:
1.  Program-program penanggulangan kemiskinan selama ini cenderung berfokus pada upaya penyaluran bantuan sosial untuk orang miskin. Hal itu, antara lain, berupa beras untuk rakyat miskin dan program jaring pengaman sosial (JPS) untuk orang miskin. Upaya seperti ini akan sulit menyelesaikan persoalan kemiskinan yang ada karena sifat bantuan tidaklah untuk pemberdayaan, bahkan dapat menimbulkan ketergantungan.
Program-program bantuan yang berorientasi pada kedermawanan pemerintah ini justru dapat memperburuk moral dan perilaku masyarakat miskin. Program bantuan untuk orang miskin seharusnya lebih difokuskan untuk menumbuhkan budaya ekonomi produktif dan mampu membebaskan ketergantungan penduduk yang bersifat permanen. Di lain pihak, program-program bantuan sosial ini juga dapat menimbulkan korupsi dalam penyalurannya.Alangkah lebih baik apabila dana-dana bantuan tersebut langsung digunakan untuk peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM), seperti dibebaskannya biaya sekolah, seperti sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama(SMP), serta dibebaskannya biaya- biaya pengobatan di pusat kesehatan masyarakat (puskesmas).
3.        Kurangnya pemahaman berbagai pihak tentang penyebab kemiskinan itu sendiri sehingga program-program pembangunan yang ada tidak didasarkan pada isu-isu kemiskinan, yang penyebabnya berbeda-beda secara lokal.
H.    Tantangan Kemiskinan di Indonesia
Masalah kemiskinan di Indonesia sarat sekali hubungannya dengan rendahnya tingkat Sumber Daya Manusia (SDM). dibuktikan oleh rendahnya mutu kehidupan masyarakat Indonesia meskipun kaya akan Sumber Daya Alam (SDA). Sebagaimana yang ditunjukkan oleh rendahnya Indeks Pembangunan Masyarakat (IPM) Indonesia pada tahun 2002 sebesar 0,692. yang masih menempati peringkat lebih rendah dari Malaysia dan Thailand di antara negara-negara ASEAN. Sementara, Indeks Kemiskinan Manusia (IKM) Indonesia pada tahun yang sama sebesar 0,178. masih lebih tinggi dari Filipina dan Thailand. Selain itu, kesenjangan gender di Indonesia masih relatif lebih besar dibanding negara ASEAN lainnya.
Tantangan lainnya adalah kesenjangan antara desa dan kota. Proporsi penduduk miskin di pedesaan relatif lebih tinggi dibanding perkotaan. Data Susenas (National Social Ekonomi Survey) 2004 menunjukkan bahwa sekitar 69,0 % penduduk Indonesia termasuk penduduk miskin yang sebagian besar bekerja di sektor pertanian. Selain itu juga tantangan yang sangat memilukan adalah kemiskinan di alami oleh kaum perempuan yang ditunjukkan oleh rendahnya kualitas hidup dan peranan wanita, terjadinya tindak kekerasan terhadap perempuan dan anak, serta masih rendahnya angka pembangunan gender (Gender-related Development Indeks, GDI) dan angka Indeks pemberdayaan Gender(Gender Empowerment Measurement,GEM).
Tantangan selanjutnya adalah otonomi daerah. di mana hal ini mempunyai peran yang sangat signifikan untuk mengentaskan atau menjerumuskan masyarakat dari kemiskinan. Sebab ketika meningkatnya peran keikutsertaan pemerintah daerah dalam penanggulangan kemiskinan. Maka tidak mustahil dalam jangka waktu yang relatif singkat kita akan bisa mengentaskan masyarakat dari kemiskinan pada skala nasional terutama dalam mendekatkan pelayanan dasar bagi masyarakat.
BAB IV
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Berdasarkan latar belakang, perumusan masalah yang telah diuraikan di atas, dapat disimpulkan sebagai berikut:
Kemiskinan adalah keadaan dimana terjadi kekurangan hal-hal yang biasa untuk dipunyai seperti makanan , pakaian , tempat berlindung dan air minum, hal-hal ini berhubungan erat dengan kualitas hidup . Kemiskinan kadang juga berarti tidak adanya akses terhadap pendidikan dan pekerjaan yang mampu mengatasi masalah kemiskinan dan mendapatkan kehormatan yang layak sebagai warga negara.
Masalah dasar pengentasan kemiskinan bermula dari sikap pemaknaan kita terhadap kemiskinan. Kemiskinan adalah suatu hal yang alami dalam kehidupan. Dalam artian bahwa semakin meningkatnya kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi maka kebutuhan pun akan semakin banyak. Pengentasan masalah kemiskinan ini bukan hanya kewajiban dari pemerintah, melainkan masyarakat pun harus menyadari bahwa penyakit sosial ini adalah tugas dan tanggung jawab bersama pemerintah dan masyarakat. Ketika terjalin kerja sama yang romantis baik dari pemerintah, nonpemerintah dan semua lini masyarakat.
Meskipun jumlah kemiskinan hingga tahun 2011 kian berkurang yang mana pada tahun 2007 jumlah miskin berjumlah sekitar  37.17 juta orang ,2008 sekitaar 34,96  dan hingga tahun 2011 jumlahnya mencapai  30,02 Juta orang,kita sebagai warga negara indonesia jangan terlalu berbagga hati dulu,nyatanya meskipun tiap tahun kemiskinan berkurang,belum tentu yang menikmati program menanggulangi kemiskinan seperti BLT tepat sasaran masih banyak orang yang terlantar yang sama sekali belum menyentuh bantuan tersebut.mengurangi bukan suatu penyelesaiaan,tetapi mengatasilah yang merupakan suatu penyelesaiannya,sebenarnya bisa saja mengurangu jumlah warga miskin dengan cara di bunuh saja agar tidak membebani negara tanpa mengeluarkan uang sedikitpun,tetapi itu bukan suatu cara menyelesaikan masalah tetapi menambah masalah,jika kemiskinan di atasi dengan carayang tepat sasaran maka insya allah warga negara indonesia akan sejahtera adil dan makmur.
B.     Saran
Dalam menghadapi kemiskinan di zaman global diperlukan usaha-usaha yang lebih kreatif, inovatif, dan eksploratif. Selain itu, globalisasi membuka peluang untuk meningkatkan partisipasi masyarakat Indonesia yang unggul untuk lebih eksploratif. Di dalam menghadapi zaman globalisasi ke depan mau tidak mau dengan meningkatkan kualitas SDM dalam pengetahuan, wawasan, skill, mentalitas, dan moralitas yang standarnya adalah standar global.
Sebagai masalah yang menjadi isu global disetiap Negara berkembang, wacana kemiskinan dan pemberantasannya haruslah menjadi agenda wajib bagi para pemerintah dan pemimpin Negara. Peran serta pekerja sosial dalam menangani permasalahan kemiskinan sangat diperlukan, terlebih dalam memberikan masukkan (input) dan melakukan perencanaan strategis (strategic planning) tentang apa yang akan menjadi suatu kebijakan dari pemerintah.
Berhubung kemiskinan adalah masalah yang kompleks, tentu penanganannya tidak bisa distrukturkan secara tersentralisir. Penanganan kemiskinan juga menuntut kepekaan sosiokultural. Dengan masih besarnya tingkat kemiskinan di masyarakat maka pemerintah harus lebih tanggap dalam mengatasi masalah ini. Karena seperti yang kita ketahui kemiskinan merupakan salah satu penyebab ketidakmakmuran masyarakat Indonesia. Dengan demikian kebijakan-kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah, harus berpihak pada kaum miskin agar mereka tidak semakin tertindas dengan masalah kemiskinan yang mereka hadapi. Selain itu harusnya pemerintah dapat memperbanyak sector-sektor usaha angka pengangguran dapat ditekan karena seperti yang kita ketahui pengangguran merupakan salah satu penyebab kemiskinan.
DAFTAR PUSTAKA
Safrudin. (2008). Persentase Kemiskinan. http://persentase/kemiskinan/diindonesia/sejak/1994/2010 .html  (diakses tanggal 27 Desember 2012).
Alians. (2009). Pemerintah dan Kemiskinan. http://google/searche?/pemerintah/dan.kemiskinan/.com.html (diakses tanggal 27 Desember  2012).
Santoso, Djoko. (2007). Wawasan Kebangsaan. Yogyakarta. The Indonesian Army Press.
Riyadi, Slamet dkk. (2006). Kewarganegaraan Untuk SMA/ MA. Banyumas. CV. Cahaya Pustaka.
Pidarta, Prof. Dr. Made. (2004). Penyakit lama Negara. Jakarta: PT Rineka Cipta.
Addiy. (2010). Definisi Kemiskinan. http://google/Definisi-kemiskinan-artikel.com.html (diakses 27 Desember 2012).
Weiz, Fajar. (2011). Artikel Sosiologi.  http://fajarweiz.blogspot.com/2011/05/artikel-sosiologi.html
Saidihardjo & Sumadi HS. (1996). Konsep Dasar Ilmu Pengetahuan Sosial. ( Buku 1 ). Yogyakarta : FIP FKIP
luvne.com resepkuekeringku.com desainrumahnya.com yayasanbabysitterku.com